Kisah dari Nabi Musa, Penggembala dan Nelayan Pesisir Mendekati Tuhan


Syukuran, ko dibilang kesyirikan ?. Bukankah mereka sebenarnya ingin mencegah datangnya musibah. Untungnya mereka belum di kafir-kafirkan gara-gara mengadakan syukuran di pantai.. Dari kasus ini, seakan mengingatkan dengan kisah Nabi Musa dengan Penggembala. Kala itu Nabi Musa mendaki sebuah bukit. Setelah sekian lama beliau berjalan, lantas ia beristirahat disebuah batu. Selama ia beristirahat, ia hanya memandang tanah yang tandus tanpa melihat tanda-tanda kehidupan perkampungan warga. Angin bukit yang turun, seakan membawa Nabi Musa tak kuat menahan kantung bola matanya. Ketika setengah sadar, beliau mendengar suara dari seseorang. Seseorang tersebut berkata. “ Ya Allah, Engkau tahu aku sangat sepi dan sendiri. Aku kangen kepadaMu. Ingin aku mengabdikan kepadaMu, bahkan menjadi budakMu pun aku siap. Seandainya aku menjadikan budakMu, aku akan meijitiMu dan meyediakan susu hangat untukMu. Mendengar pernyataan tersebut, Musa terbangun dan langsung mendekati seseorang tersebut, kebetulan seseorang tersebut adalah seorang penggembala. Sesampainya, Musa langsung memarahi gembala tersebut, Musa marah,karena Tuhan disangka layaknya manusia yang butuh pijitan dan susu hangat. Gembala tersebut merasa takut atas ucapan Musa dengan nada yang keras penuh kemarahan. Akan tetapi dalam marahnya, Musa pun merasa ketakutan. Syahdan membuat Musa berkeringat dingin. Rupanya Musa tahu, ia sedang didatangi malaikat Jibril. Lantas sekarang situasinya pun berbalik. Jibrillah yang memarahi Musa. Jibril berkata, “Gembala tersebut mempunyai caranya sendiri mencintai Allah, biarkan saja”. “Bagi gembala itu merupakan cara terbaik mengungkapkan cintanya kepada Tuhannya, seandainya caranya berbeda denganmu belum tentu itu salah”, ujar Jibril. Allah itu maha luas ilmuNya. Kisah ini seakan memberikan tamsil kepada kita agar tak mudah menyalahkan. Kita diberikan untuk mempunyai cara pandang, jarak pandang bahkan sudut pandang oleh Tuhan yang berbeda. Kalo  5 itu bisa di dapatkan dari beberapa kemungkinan, semisal 3 ditambah 2, 1 ditambah 4 atau 2,5 ditambah 2,5. Begitu pun nelayan pesisir pantai di daerah Cilacap dan Tuban. Mereka mempunyai cara pandang nya sendiri untuk mengungkapkan rasa syukur dan cintanya kepada Tuhan.

Komentar

Postingan Populer