Bendera Tauhid Tak Perlu Di Tauhidkan.
Bendera Tauhid merupakan milik umat islam. kenapa
harus dibakar ?
Sebagai umat islam jangan hanya tinggal diam....Mari
kita lawan....
Sekkk....sekkk..
Kenapa hatiku sama sekali tak punya rasa marah ?
Malah aku bingung ? Apakah aku bukan umat islam ? . Hingga hatiku keras seperti
batu ???
Ternyata hatiku malah bilang” seandainya kalimat
tauhid itu dibakar, ketauhidanku tidak berkurang pun tidak bertambah. Karena
Tauhid itu bukan pada simbol-simbol, bukan pada lafadz-lafadz dan sejenisnya.
Bagiku tauhid sendiri puncaknya adalah manunggaling kawula gusti layaknya Al-
Hallaj dan Siti Jenar”. Seandainya tauhid kita masih terikat akan simbol,
lafadz dan sejenisnya maka sejatinya kita ini masih belum manunggal. Kalimat
Tauhid, biasanya diartikan, Tidak ada Tuhan selain Allah. Maka seandainya orang
sudah mengalami fase puncak ketauhidan, Ia sudah mengalami fase kefanaan.
Menganggap dirinya sudah tidak ada. Yang ada hanya Dia semata. Bisanya ada dia,
semesta, bumi, manusia, hewan, dan tumbuhan, bahkan keributan, kesenangan pun
kedukaan sebenarnya adalah paradoks. Sebab itu semua diadakan oleh yang ada.
Maka aku pun tak menanggapi hal itu dengan serius, bagiku keributan tersebut besar
kemungkinan terjadi diadakan oleh Dia yang maha ada. Tugas manusia hanya
mengambil tamsil dari setiap peristiwa. Tak perlu untuk saling menyalahkan.
Apalagi memancing keributan. Toh, kita sesama umat islam. Harusnya Tuhan lebih
dulu yang berhak marah. Karena namanya sudah dibakar oleh ciptaanya. Tapi aku
yakin, Tuhan penuh welas serta asih. Lantas, kenapa kita harus marah seandainya
Tuhan saja maha pengampun. Marah boleh, tapi jangan sampai kehilangan akal
sehat. Apalagi memperkeruh suasana dengan memposting seakan kita orang yang
terdepan untuk membela Tuhan. Tapi, disisi lain kitalah orang yang secara tidak
langsung menghina Tuhan. Gusdur, pernah
dawuh, “Tuhan tak perlu dibela”. Sebab Tuhan sudah maha besar. Saking besarnya Tuhan dengan kita tidak
membakar atau membakar bendera yang ada namaNya tak sedikit pun merubah
kebesaranNya. Oleh karenanya tak usah melakukan demonstrasi untuk membuktikan
kebesaran Tuhan. Lebih baik kita mengecil, dan mempraktikan ketauhidan dengan
sejatinya tauhid. Yang tak lagi bergantung kepada mahluk. Dengan demikian
seandainya kita sudah bertauhid dengan sejati. Maka puncaknya kita tidak lagi
akan bertanya, kenapa peristiwa itu terjadi ?. Tapi kita seakan berfikir dan
bertafakur bagaimana menyikapi peristiwa itu terjadi.
Komentar
Posting Komentar