Puisi dan Dualisme Arti.

Sebenarnya saya tidak begitu paham tentang puisi.Tapi akhir - akhir ini orang sedang memperdebatkan tentang puisi. Dimulai dari kontroversi pembacaan puisi yang berjudul,"Ibu Indonesia", yang dibacakan dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018.Sampai Calon Gubernur Jawa Tengah Bapak Ganjar Pranowo yang membacakan Puisi Gus Mus yang berjudul,"Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana". Aku tidak berusaha menafsirkan kedua puisi tersebut. Bagiku,yang mengerti akan arti dari kata setiap bait puisi itu sendiri adalah penciptanya.Yang ku coba, kutuliskan dalam esai ini, adalah dimana tentang sebuah cerita yang aku tuliskan kembali, dari kisahnya Maulana Rumi.
Seorang Pujangga membacakan puisi dengan bahasa Arab di hadapan raja.Raja itu berkebangsaan Turki, oleh karenanya ia tak mengerti bahasa Arab. Pujangga tersebut membacakan puisinya bait demi bait, dengan mimik dan intonasi yang disesuaikan dengan makna dari bait - bait puisi tersebut. Hingga akhirnya pujangga membacakan sampai kepada inti dari puisinya tersebut. Lalu,sang raja selalu menganggukan kepalanya sebagai tanda kekagumannya pada puisinya tersebut. Disetiap bait nya ia terus mengangguk - angguk dan semakin takjub. Ketakjuban raja, berimbas pada keheranan anggota dewan kerajaan dan seisi kerajaan. Semua orang bertanya-tanya."Raja tak mengerti bahasa Arab sekata pun, lantas mengapa ia menganggukan kepalanya seakan raja mengerti akan puisi yang dibacakan pujangga tadi ?". Kemudian anggota dewan kerajaan menyuruh seorang budak untuk bertanya kepada raja tentang anggukannya dia saat puisi itu dibacakan. Ketika sang raja sedang berburu dan menganggap suasana hati raja sedang tenang. Barulah sang budak bertanya, "Baginda,kenapa engkau mengangguk saat pujangga membacakan puisi, apakah engkau tau arti dari puisi tersebut ?". Raja menjawab," Demi Tuhan aku tidak mengerti bahasa Arab, tetapi soal anggukan itu,karena aku mengerti maksud dari puisi tersebut,oleh karenanya aku menganggukan kepalaku".
Riwayat tersebut memberikan arti bagi saya, bahwa puisi itu bukan kata, esensinya adalah makna. Puisi hanyalah cabang dari tujuan, meskipun penyair terkadang tidak mencatumkan tujuannya dalam kandungan puisi tersebut. Hari ini kita tertipu oleh kulit dan kemasan tanpa mempedulikan isi dibalik kulit dan kemasan. Akibat dari melihat sesuatu dari kulit dan kemasan. Budaya menjudgment,menuduh, hingga saling menyalahkan tidak terhindarkan. Tak peduli nilai kemanusian ditumbalkan. Sebagai bangsa yang beragama,agama saya mengajarkan bahwa kita disuruh untuk Iqra (Membaca). "Bacalah dengan nama Tuhanmu".Begitu firman Tuhan. Bagi saya,membaca dengan nama Tuhan adalah agar kita terhindar dari kesalahan dan kebencian.Dengan adanya Tuhan,semoga kita dituntun menuju jalan kebenaran.Karena kita sejatinya berada di jalan yang salah.Oleh karenanya,Tuhan memfirmankan. "Tunjukan jalan yang lurus". Budayakan lah membaca. Bukakan pandanganmu, jernihkan lah pikiranmu, sebelum kamu memutuskan bahwa itu benar dan salah,baik dan buruk, hitam dan putih.Dan, cobalah melihat sesuatu itu dari tujuannya. (ghayah) niscaya dualisme akan hilang. Percayalah.

Komentar

Postingan Populer